Senin, 05 Mei 2014

Keberadaan Harimau sumatra(Panthera tigris sumatrae) terancam

Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) adalah subspesies harimau yang habitat aslinya di pulau Sumatera, merupakan satu dari enam subspesies harimau yang masih bertahan hidup hingga saat ini dan termasuk dalam klasifikasi satwa kritis yang terancam punah (critically endangered) dalam daftar merah spesies terancam yang dirilis Lembaga Konservasi Dunia IUCN. Populasi liar diperkirakan antara 400-500 ekor, terutama hidup di taman-taman nasional di Sumatera. Uji genetik mutakhir telah mengungkapkan tanda-tanda genetik yang unik, yang menandakan bahwa subspesies ini mungkin berkembang menjadi spesies terpisah, bila berhasil lestari.[2]
Penghancuran habitat merupakan ancaman terbesar terhadap populasi saat ini. Pembalakan tetap berlangsung bahkan di taman nasional yang seharusnya dilindungi. Tercatat 66 ekor harimau terbunuh antara tahun 1998 dan 2000.



Ciri-ciri

Harimau Sumatera adalah subspesies harimau terkecil. Harimau Sumatera mempunyai warna paling gelap di antara semua subspesies harimau lainnya, pola hitamnya berukuran lebar dan jaraknya rapat kadang kala dempet. Harimau Sumatera jantan memiliki panjang rata-rata 92 inci dari kepala ke buntut atau sekitar 250 cm panjang dari kepala hingga kaki dengan berat 300 pound atau sekitar 140 kg, sedangkan tinggi dari jantan dewasa dapat mencapai 60 cm. Betinanya rata-rata memiliki panjang 78 inci atau sekitar 198 cm dan berat 200 pound atau sekitar 91 kg. Belang harimau Sumatera lebih tipis daripada subspesies harimau lain. Warna kulit harimau Sumatera merupakan yang paling gelap dari seluruh harimau, mulai dari kuning kemerah-merahan hingga oranye tua. Subspesies ini juga punya lebih banyak janggut serta surai dibandingkan subspesies lain, terutama harimau jantan. Ukurannya yang kecil memudahkannya menjelajahi rimba. Terdapat selaput di sela-sela jarinya yang menjadikan mereka mampu berenang cepat. Harimau ini diketahui menyudutkan mangsanya ke air, terutama bila binatang buruan tersebut lambat berenang. Bulunya berubah warna menjadi hijau gelap ketika melahirkan.

Habitat

Harimau Sumatera hanya ditemukan di pulau Sumatera. Kucing besar ini mampu hidup di manapun, dari hutan dataran rendah sampai hutan pegunungan, dan tinggal di banyak tempat yang tak terlindungi. Hanya sekitar 400 ekor tinggal di cagar alam dan taman nasional, dan sisanya tersebar di daerah-daerah lain yang ditebang untuk pertanian, juga terdapat lebih kurang 250 ekor lagi yang dipelihara di kebun binatang di seluruh dunia. Harimau Sumatera mengalami ancaman kehilangan habitat karena daerah sebarannya seperti blok-blok hutan dataran rendah, lahan gambut dan hutan hujan pegunungan terancam pembukaan hutan untuk lahan pertanian dan perkebunan komersial, juga perambahan oleh aktivitas pembalakan dan pembangunan jalan. Karena habitat yang semakin sempit dan berkurang, maka harimau terpaksa memasuki wilayah yang lebih dekat dengan manusia, dan seringkali mereka dibunuh dan ditangkap karena tersesat memasuki daerah pedesaan atau akibat perjumpaan yang tanpa sengaja dengan manusia.


Makanan harimau Sumatera tergantung tempat tinggalnya dan seberapa berlimpah mangsanya. Sebagai predator utama dalam rantai makanan, harimau mepertahankan populasi mangsa liar yang ada dibawah pengendaliannya, sehingga keseimbangan antara mangsa dan vegetasi yang mereka makan dapat terjaga. Mereka memiliki indera pendengaran dan penglihatan yang sangat tajam, yang membuatnya menjadi pemburu yang sangat efisien. Harimau Sumatera merupakan hewan soliter, dan mereka berburu pada malam hari, mengintai mangsanya dengan sabar sebelum menyerang dari belakang atau samping. Mereka memakan apapun yang dapat ditangkap, umumnya celeng dan rusa, dan kadang-kadang unggas atau ikan. Orangutan juga dapat jadi mangsa, mereka jarang menghabiskan waktu di permukaan tanah, dan karena itu jarang ditangkap harimau. Harimau Sumatera juga gemar makan durian.
Harimau Sumatera juga mampu berenang dan memanjat pohon ketika memburu mangsa. Luas kawasan perburuan harimau Sumatera tidak diketahui dengan tepat, tetapi diperkirakan bahwa 4-5 ekor harimau Sumatera dewasa memerlukan kawasan jelajah seluas 100 kilometer di kawasan dataran rendah dengan jumlah hewan buruan yang optimal (tidak diburu oleh manusia)

Reproduksi[sunting | sunting sumber]

Harimau Sumatera dapat berbiak kapan saja. Masa kehamilan adalah sekitar 103 hari. Biasanya harimau betina melahirkan 2 atau 3 ekor anak harimau sekaligus, dan paling banyak 6 ekor. Mata anak harimau baru terbuka pada hari kesepuluh, meskipun anak harimau di kebun binatang ada yang tercatat lahir dengan mata terbuka. Anak harimau hanya minum air susu induknya selama 8 minggu pertama. Sehabis itu mereka dapat mencoba makanan padat, namun mereka masih menyusu selama 5 atau 6 bulan. Anak harimau pertama kali meninggalkan sarang pada umur 2 minggu, dan belajar berburu pada umur 6 bulan. Mereka dapat berburu sendirian pada umur 18 bulan, dan pada umur 2 tahun anak harimau dapat berdiri sendiri. Harimau Sumatera dapat hidup selama 15 tahun di alam liar, dan 20 tahun dalam kurungan.

Perdagangan



Seorang pria berpose bersama seekor Harimau Sumatera yang telah ditembak mati (foto antara 1890-1900).
Perdagangan bagian tubuh harimau di Indonesia saat ini semakin memprihatinkan. Penemuan tentang perdagangan harimau tersebut tercermin dalam survei Profauna Indonesia yang didukung oleh International Fund for Animal Welfare (IFAW) pada bulan Juli - Oktober 2008. Selama 4 bulan tersebut Profauna mengunjungi 21 kota/lokasi yang ada di Sumatera dan Jakarta.
Dari 21 kota yang dikunjungi Profauna, 10 kota di antaranya ditemukan adanya perdagangan bagian tubuh harimau (48 %). Bagian tubuh harimau yang diperdagangkan meliputi kulit, kumis, cakar, ataupun opsetan utuh.
Harga bagian tubuh harimau yang dijual itu bervariasi. Untuk yang utuh dijual seharga Rp. 5 juta per lembar sampai dengan 25 juta per lembar. Sedangkan taring harimau ditawarkan seharga Rp. 400.000 hingga Rp. 1,1 juta.
Kebanyakan bagian tubuh harimau tersebut dijual di toko seni, penjual batu mulia, dan penjual obat tradisional. Untuk perdagangan bagian tubuh harimau paling banyak terjadi di Lampung.
Masih maraknya perdagangan bagian tubuh harimau tersebut sudah dilaporkan Profauna ke Departemen Kehutanan melalui Dirjen PHKA pada bulan April 2009, dengan harapan pemerintah bisa mengambil langkah-langkah tegas untuk mengatasi perdagangan satwa langka yang dilindungi tersebut. Beberapa tindakan nyata telah diambil pemerintah untuk memerangi perdagangan bagian tubuh harimau di Jakarta.


Penegakan hukum[sunting | sunting sumber]

Pada tanggal 7 Agustus 2009 Satuan Polhut Reaksi Cepat dan Satuan Sumdaling Polda Metro Jaya berhasil menggulung sindikat perdagangan kulit harimau di Jakarta. Selain mengamankan 2 kulit harimau Sumatera utuh, polisi juga menyita 6 awetan burung cendrawasih, 2 kulit kucing hutan, 12 awetan kepala rusa, 1 surili, 5 tengkorak rusa, 1 kepala beruang dan 1 kulit rusa sambar. Sindikat perdagangan satwa langka itu diduga juga melibatkan sejumlah kebun binatang di Jawa dan Sumatera.
Terungkapnya sindikat perdagangan harimau dan satwa langka lainnya di Jakarta tersebut membuktikan bahwa laporan Profauna tentang perdagangan harimau adalah sebuah fakta. Fakta tersebut seperti fenomena gunung es, hanya tampak di permukaannya saja. Fakta sebenarnya diyakini jauh lebih besar dari yang sudah terdektesi.
Perlindungan harimau
Perdagangan bagian tubuh harimau di Indonesia adalah perbuatan kriminal, karena melanggar undang-undang nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Berdasarkan pasal 21 dalam undang-undang nomor 5 tahun 1990 poin (d) bahwa "setiap orang dilarang untuk memperniagakan, menyimpan atau memiliki, kulit, tubuh atau bagian-bagian lain satwa yang dilindungi atau barang-barang yang dibuat dari bagian-bagian satwa tersebut atau mengeluarkannya dari suatu tempat di Indonesia ke tempat lain di dalam atau di luar Indonesia". Pelanggar dari ketentuan tersebut dapat dikenakan sanksi pidana berupa hukuman penjara maksimal 5 tahun dan denda maksimum 100 juta.

Perbedaan tawon dan lebah

Banyak orang menyangka tawon dan lebah sama, bahkan keduanya dianggap menghasilkan madu. Padahal, tidak. Walau bentuk dan perilakunya terlihat mirip, tawon (wasp) dan lebah (bee) adalah jenis serangga yang berbeda. Bila kita perhatikan, bentuk tubuh keduanya saja beda. Umumnya tawon kelihatan ramping dibanding lebah yang lebih gemuk. Namun, dari ukuran tubuh, tawon lebih besar daripada lebah, terutama lebah madu. Pada tubuh bagian atas (thorax) tawon, sedikit sekali ditumbuhi rambut halus. Sementara pada lebah, banyak ditumbuhi rambut. Perbedaan fisik lainnya terletak pada kaki. Meski jumlahnya sama, tiga pasang, kaki belakang lebah lebih besar dan pipih di banding kaki depannya. Sedangkan kaki tawon, ukurannya sama.

Tawon dan lebah memiliki sengat pada bagian tubuh paling bawah yang digunakan untuk mempertahankan diri. Sengat pada tawon tidak bergerigi sehingga bisa dicabut setelah ditancapkan pada sasaran dan digunakan kembali pada kesempatan lain. Setelah menyengat, tawon tetap hidup. Sedangkan sengat lebah yang ditancapkan akan tersangkut dan tertinggal pada sasaran. Bersama itu pula tercabut kantung sengatnya. Tak lama setelah itu lebah pun mati.
Perbedaan tawon dan lebah terlihat juga dari perilakunya. Makanan lebah adalah nektar (sari bunga) dan pollen (serbuk sari).
Makanya, lebah bisa menghasilkan madu yang manis. Sedangkan tawon, selain memakan buah dan sari bunga, sebagian dari mereka juga memakan serangga lainnya. Lebih khusus lagi, larva atau bayi tawon yang baru menetas bahkan hanya memakan hewan lain, seperti kutu daun, serangga, kepompong serangga lain, dan sebagainya.
Tawon dewasa menyediakan makanan itu di dekat larva hingga larva tawon yang buta dan belum berkaki ini bisa mengonsumsinya dengan menghisap cairan dari hewan yang sudah dilumpuhkan itu. Sementara larva lebah diberi makan serbuk sari dan nektar, sebagaimana lebah dewasa.
Wah, ternyata tawon dan lebah punya keunikan masing-masing. Subhanallah, Mahateliti Allah yang menciptakan setiap makhluknya berbeda satu sama lain.

Minggu, 04 Mei 2014

Colugo hewan langka dari hutan ASIA tenggara

Kubung (bahasa Inggris: colugo) adalah hewan nokturnal sejenis tupai yang terdapat di Asia Tenggara. Nama ilmiahnya Cynocephalus variegatus, dan termasuk dalam ordo Dermoptera. Hewan ini memiliki kulit tipis elastis yang terdapat pada sekitar kedua kakinya, sehingga ia mampu melayang dari tempat tinggi ke tempat yang lebih rendah. Dalam bahasa Inggris, kubung dikenal juga dengan cobego atau flying lemur. Meskipun disebut dengan lemur yang dapat terbang, kubung bukanlah lemur dan tidak memiliki kemampuan terbang. Kubung termasuk herbivora, ia makan tumbuh-tumbuhan seperti daun, sayuran, bunga, dan buah.

Laba-Laba black widow


Tahukah Anda?
Laba-laba janda hitam racun nya 
15 kali lebih beracun daripada seekor ular derik! Tapi, jumlah racun menyuntikkan laba-laba dengan satu gigitan biasanya tidak fatal bagi manusia.                                      
 gigitan nya dapat menyebabkan nyeri otot, mual, dan kelumpuhan diafragma yang dapat membuat sulit bernapas, namun bertentangan dengan kepercayaan populer, kebanyakan orang yang digigit tidak mengalami kematian yang serius apalagi kerusakan tubuh. Tapi gigitan bisa berakibat fatal-biasanya untuk anak kecil, orang tua, atau orang sakit. Untungnya, kematian yang disebabkannya cukup langka, laba-laba ini tidak agresif dan menggigit hanya untuk pertahanan diri, seperti ketika seseorang sengaja mengganggu mereka.

Species baru telah ditemukan di BRAZIL

TIM peneliti dari Pontifical Catholic University of Rio Grande do Sul, Porto Alegre, Brazil, telah menemukan 7 spesies kucing liar dari genus Leopardus genus Amerika Tengah dan Selatan, yang diperkirakan pertama menempati wilayah ini pada masa Pliosen akhir (sekitar 2,5-3,5 juta tahun yang lalu).
Mereka berhasil menemukan kucing pampas (Leopardus colocolo) di bagian utara Brazil, kucing Geoffroy (L. geoffroyi) dari bagian selatan, dan dua populasi tigrina (L. tigrinus) yang terpisah - di utara timur dan selatan.
Para peneliti menggunakan beberapa jenis penanda molekuler untuk menyelidiki sejarah evolusi spesies kucing liar.
"Populasi tigrina tidak kawin campur, yang membuat kami mengelompokkan mereka sebagai spesies yang berbeda", kata Dr Eduardo Eizirik, seperti yang dilansir dari The Wired (3/12/2013).

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Web Hosting Coupons